Desain Tempat Ibadah
bagaimana skala ruang raksasa menciptakan rasa kerdil di hadapan Tuhan
Pernahkah teman-teman melangkah masuk ke dalam sebuah rumah ibadah yang sangat besar? Mungkin itu Masjid Istiqlal dengan kubah raksasanya, Katedral Jakarta dengan langit-langitnya yang menjulang, atau Candi Borobudur dengan stupa-stupanya yang megah. Begitu melewati pintu utama, ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuh kita. Tanpa disuruh, langkah kaki kita otomatis melambat. Suara kita mendadak turun menjadi bisikan. Tiba-tiba, bulu kuduk sedikit merinding. Kita menengadah, melihat ke atas, dan seketika itu juga, kita merasa sangat, sangat kecil. Selama berabad-abad, banyak orang mengira perasaan kerdil ini murni karena dorongan spiritual yang tiba-tiba turun dari langit. Namun, mari kita lihat dari kacamata yang sedikit berbeda. Bagaimana jika sensasi merinding dan rasa kerdil itu sebenarnya sudah dirancang, dihitung, dan direkayasa oleh manusia-manusia cerdas di masa lalu?
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Sejarah menunjukkan bahwa para arsitek kuno sebenarnya adalah psikolog pertama di dunia, jauh sebelum ilmu psikologi itu sendiri lahir. Mereka mungkin tidak tahu apa itu neuroscience, tapi mereka sangat paham cara memanipulasi emosi manusia melalui batu, cahaya, dan skala. Tempat ibadah tidak pernah dirancang sekadar sebagai tempat berteduh dari hujan. Bangunan-bangunan ini dirancang sebagai sebuah mesin transisi. Coba kita perhatikan. Sebelum masuk ke ruang utama, kita biasanya harus melewati halaman yang luas, menaiki anak tangga yang banyak, atau melewati lorong yang agak gelap. Ini adalah trik arsitektur kuno. Tujuannya adalah untuk mencabut kita dari kebisingan dunia nyata. Setelah tubuh dan pikiran kita lelah atau terkalibrasi oleh transisi fisik tersebut, barulah pintu utama dibuka. Dan boom. Kita dihadapkan pada ruang kosong bervolume raksasa. Pertanyaannya, mengapa ruang kosong yang luar biasa besar ini bisa langsung memukul telak kesadaran kita?
Untuk menjawabnya, kita harus membedah apa yang terjadi di dalam kepala kita saat memproses ruang fisik. Dalam dunia sains kognitif, ada konsep yang disebut embodied cognition atau kognisi yang bertubuh. Intinya begini, cara kita berpikir dan merasa tidak hanya terjadi di otak, tapi sangat dipengaruhi oleh interaksi fisik tubuh kita dengan lingkungan sekitar. Otak kita adalah mesin pengukur yang bekerja tanpa henti. Setiap detik, otak sibuk membandingkan ukuran tubuh kita dengan objek di sekitar. Ketika kita berada di kamar tidur, otak merasa aman karena skalanya seimbang dengan tubuh kita. Kita merasa memegang kendali. Namun, apa jadinya ketika otak tiba-tiba dihadapkan pada pilar setinggi puluhan meter dan kubah yang lebarnya melampaui batas pandang wajar kita? Otak kita mengalami "korsleting" sesaat. Sistem navigasi spasial di kepala kita kebingungan mencari titik referensi. Skala raksasa itu merusak persepsi kendali kita. Tapi anehnya, korsleting ini tidak membuat kita panik. Alih-alih merasa terancam, kita justru merasa damai dan berserah. Mengapa otak kita memilih respons ketundukan di hadapan ruang yang raksasa?
Inilah puncak rahasianya. Ilmuwan psikologi punya nama khusus untuk fenomena korsleting yang indah ini: Awe (rasa takjub yang bercampur dengan gentar). Ketika tubuh kita diletakkan di dalam arsitektur berskala raksasa, otak akan memicu respons awe ini. Secara biologis, hal ini sangat menakjubkan. Pemindaian otak melalui fMRI menunjukkan bahwa saat kita merasakan awe, ada satu bagian otak yang tiba-tiba meredup dan "dimatikan". Bagian itu bernama Default Mode Network (DMN). Teman-teman tahu apa fungsi DMN? DMN adalah pusat dari ego kita. Di situlah tempat bersarangnya rasa bangga, kekhawatiran tentang cicilan, stres pekerjaan, dan perasaan bahwa diri kita ini paling penting sedunia. Ketika langit-langit katedral atau masjid raksasa itu memaksa kita menengadah, arsitektur tersebut secara harfiah sedang membungkam ego di otak kita. Ilmuwan menyebutnya sebagai ego dissolution atau pelarutan ego. Karena ego kita dimatikan oleh skala ruang yang masif, batas antara "saya" dan "alam semesta" jadi mengabur. Kita kehilangan keakuan kita. Di titik ruang hampa yang minim ego itulah, otak kita mengartikannya sebagai kedekatan dengan Sang Pencipta. Rasa kerdil itu ternyata adalah hasil dari ego kita yang dipaksa tunduk oleh matematika dan geometri ruang.
Sungguh ironis sekaligus indah, bukan? Manusia menggunakan akal budinya yang luar biasa untuk membangun struktur raksasa, hanya agar struktur tersebut bisa mengingatkan betapa kecilnya manusia itu sendiri. Arsitektur tempat ibadah adalah sebuah pelukan empati dari masa lalu. Para pendahulu kita seolah tahu bahwa suatu saat, kita akan kelelahan memikul beban ego di dunia yang serba cepat ini. Mereka membangun ruang-ruang raksasa itu agar kita punya tempat untuk sejenak meletakkan ego kita yang berat, merasa kerdil, dan menyadari bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dan tak terbatas. Jadi, kelak jika teman-teman kembali melangkah masuk ke dalam rumah ibadah yang megah, izinkan diri kita menikmati prosesnya. Nikmati langkah yang melambat itu. Rasakan momen saat ego kita perlahan menguap ke arah kubah yang tinggi. Dan mari kita tersenyum kecil menyadari bahwa, kadang-kadang, merasa sangat kecil adalah cara terbaik bagi kita untuk merasa utuh kembali.